FGD Dan SNK, TGB Sampaikan Pancasila Dalam Budaya Dan Adat Masyarakat Sasak

Share and Enjoy !

Gubernur NTB, Dr.TGH. M. Zainul Majdi Menjadi Narasumber Pada FGD Dan SNK di Jakarta
MATARAM,LINTASNTB.Gubernur NTB, Dr. TGH.M. Zainul Majdi menjadi narasumber pada Focus Group Discussion (FGD dan Simposium Nasional Kebudayaan (SNK) yang diselenggarakan Badan Pengkajian Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) di Jakarta, Selasa (19/09/2017). 
Kegiatan tersebut mengusung tema: ”Pembangunan Karakter Bangsa  untuk melestarikan dan mensejahterakan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”.
Selain Gubernur NTB,  hadir juga sebagai narasumber Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, SE., MM dan moderatornya, Dr. Erawati dari Forum Kerukunan Putra-Putri TNI (FKPPI).
Pada saat itu, Gubernur NTB yang lebih dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB), diberi kehormatan oleh Ketua Bidang Pengkajian PPAD yang juga ketua penyelenggara Simposium, Letjen TNI (Purn) Slamet Supriadi sebagai  pemakalah pada FGD seri 4 dari 6 seri yang direncanakan, dengan judul permasalahan ”Pendayagunaan Kearifan Lokal dalam Memperkuat Semangat Kebangsaan”. 
Dalam paparannya, Gubernur TGB  menguraikan masyarakat Sasak sebagai etnis terbesar di Nusa Tenggara Barat, sejak jaman dulu  telah menjalani nilai-nilai kearifan lokal  yang mengatur tentang tata cara hidup bermasyarakat, serta mengatur tentang sanksi pelanggaran dari aturan yang sudah disepakati (awig-awig). Wadah tersebut dikenal dengan istilah ”krama”. Masyarakat Sasak juga memiliki nilai-nilai luhur kearifan lokal dalam mengimplementasikan Pancasila sebagai dasar negara. Sebab  prinsip dasar hidup orang sasak ”tindih,  mali’, merang”. Tindih  artinya tidak sombong, rendah hati dan taat pada norma-norma. Mali’  artinya pantang melanggar norma-norma agama atau adat yang berlaku. Merang  artinya dinamis, inovatif, kreatif, termasuk siap membela diri apabila harga diri dan martabatnya diinjak-injak orang lain.
Gubernur Ahli Tafsir tersebut kemudian  menjelaskan satu persatu nilai yang terkandung dalam Pancasila yang dikaitkan dengan kebudayaan masyarakat NTB. 
TGB memulainya dengan sila pertama, yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa tercermin dalam nilai-nilai agama yang dianut masyarakat Sasak. Yaitu sebelum masuknya agama (Islam) di Lombok, suku sasak telah memiliki kepercayaan akan keesaan Tuhan. Dalam tradisi masyarakat sasak terdapat ungkapan ”neneq kaji saq kuasa”. Dalam catatan sejarah orang sasak tidak pernah menyembah berhala, matahari, bulan, dan simbol-simbol lainnya. religiusitas suku bangsa sasak dalam mengamalkan norma-norma ketuhanan tercermin dari jejaton : sasaka purwa wisesa, Lombok mirah sasak adi dan dewasa ini terpopulerkan dengan sebutan pulau seribu masjid.
Lebih lanjut TGB menjelaskan, sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab tergambar dalam kehidupan masyarakat suku Sasak dikenalkan bahwa manusia yang dianggap beradab adalah manusia yang pandai menghargai sesamanya. Bagaimanapun tingginya derajat seseorang tidak dikatakan beradab apabila tidak menghargai sesama manusia. ”titi-tate, tindak tanduk, tertip-tapile lan wahyat jatmike kehidupan”. 
TGB mengatakan Dalam budaya sasak penerapan sila kemanusiaan yang adil dan beradab  dapat kita temukan dalam berbagai kehidupan bermasyarakat yang sangat mengagumi dan meneladani pemimpin yang disebut Tuan Guru. 
”Tuan Guru merupakan cermin nilai-nilai baik,” Ungkap TGB di hadapan puluhan purnawirawan Jenderal.
Untuk sila ketiga, berbunyi Persatuan Indonesia, TGB menjelaskan warisan budaya berkaitan dengan persatuan, terdapat dalam berbagai ungkapan sasak antara lain menge tao peririq diriq,  aiq meneng empaq bau tunjung tilah, bareng anyong saling sedok. 
Selanjutnya, TGB memaparkan bahwa pembelajaran yang berkaitan dengan sila keempat,  Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan dapat   ditemukan dalam filsafat sasak yang mengatakan perapet jejengku peaopok ambu madu arep, bulet aiq sik bumbung  bulet kerante siq mupakat.
Terakhir Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,Gubernur Alumni Mesir tersebut menjelaskan bahwa mewujudkan keadilan sosial merupakan tugaa bersama yang dalam kehidupan masyarakat sasak terangkum dalam ungkapan waris warangwirang.Dalam aplikaainya siatur dengan awiq-awiq oleh karame adat dan karame banjar. Begitu juga halnya di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat pada dasarnya sama dengan daerah lainnya .
“Pengungkapannya bisa dengan bait-bait syair yang sangat tinggi nilainya,sebagai contoh mana tau barang kayu lamento samanate bananse sanak peranak,maknanya siapapun dia asal kehadirannya dapat memverikan ketenangan,kebahagiaan,persahabatan,persaudaraan itu bisa diterima dengan baik,” jelasnya 
Sedangkan kearifan lokal di Bima dan Dompu disampaikan dalam bentuk motto yang lebih mengedepankan dan menjunjung tinggi nilai moral,etika dan budi pekerti seperti “maja labo daho” artinya malu dan takut. Maknanya sebagai manusia yang malu dan takut melakukan hal yang melanggar norma hukum dan agama.
Selain itu,lanjutnya, ungkapan ngahi rawi pahu yang dianut masyarakat kabupaten Dompu merupakan satunya perkataan dengan perbuatan maknanya apa yang telah diucapkan harus dilaksanakan dengan konsekwensi yang tinggi.  (f3/hm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *