Kendalikan Inflasi, BI Panen Cabai dan Resmikan Rumah Pembibitan di Lombok Timur

Share and Enjoy !

Kepala Kantor BI perwakilan NTB, Prijono (Kiri) saat panen cabe
LOTIM,LINTASNTB. Guna mendukung terjaganya stabilitas harga, Bank Indonesia (BI) perwakilan NTBturut andil dalam meningkatkan ketersediaan pasokan komoditas penyumbang inflasi. Hal tersebut diwujudkan dengan ikut mengembangkan klaster UMKM yang bergerak di sektor pertanian, khususnya tanaman cabai, sebagai salah satu komoditas penyumbang inflasi di Provinsi NTB. 
Bertempat di Desa Lendang Nangka Kabupaten Lombok Timur, Senin (16/10),Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB melaksanakan panen raya cabai di screen house Kelompok Tani Tetu-Tetu, yang juga merupakan bantuan dari Bank Indonesia. Turut hadir pada kegiatan tersebut Asisten 3 Kabupaten Lombok Timur, BPTP Provinsi NTB, Polres Lombok Timur, Kasdam 1615 Lombok Timur, Babinsa, Bank NTB, serta ratusan masyarakat sekitar yang terlihat antusias sepanjang kegiatan berlangsung. 
Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB, Prijono dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan panen raya cabai ini sejalan dengan tujuan tunggal Bank Indonesia yaitu menjaga stabilitas harga, atau yang dikenal dengan inflasi.
“Inflasi dapat terkendali apabila pasokan komoditas pangan terjaga. Hal itulah yang mendasari langkah Bank Indonesia untuk ikut serta menanam cabai di Lombok Timur, yang merupakan salah satu sentra produksi cabai terbesar di Provinsi NTB,” ungkapnya. 
Selain itu Prijono mengatakan tidak hanya sebatas menanam cabai, konsep pengembangan klaster cabai Bank Indonesia tersebut menganut prinsip Halalan Toyiban, dimana seluruh proses penanaman cabai mulai dari pembibitan hingga penanaman dilakukan dengan konsep total organik.
Dengan konsep total organik tersebut,ungkapnya, diharapkan produk cabai yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan sehat untuk dikonsumsi.
Oleh sebab itu, pada kesempatan yang sama Bank Indonesia juga meresmikan bangunan Rumah Pembibitan untuk pengembangan bibit-bibit organik khususnya untuk tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan sayur-sayuran.
Rumah pembibitan seluas 200 meter persegi tersebut diharapkan mampu mendukung konsep total organik yang diterapkan dalam pengembangan klaster cabai di Desa Lendang Nangka, mulai dari hulu hingga hilir. 
Terakhir, Prijono juga menyampaikan bahwa perhatian Bank Indonesia dalam pengembangan klaster cabai ini tidak berhenti sampai fase panen saja. Bank Indonesia bersama Pemerintah kabupaten  Lombok Timur turut memfasilitasi Kelompok Wanita Tani (KWT) Tetu-Tetu untuk mengolah produk turunan (hilirisasi) dari cabai yang telah dipanen.
“KWT Tetu-Tetu saat ini telah berhasil membuat beragam produk turunan dari cabai seperti sambal, abon cabai, saus sambal, dll. Produk-produk tersebut pun telah dipasarkan ke berbagai daerah di Provinsi NTB.
Hilirisasi ini,terang Prijono, dilakukan guna mendorong peningkatan nilai tambah dari produk pertanian yang dihasilkan. 
“Sekaligus menjawab keresahan yang dialami petani apabila harga komoditas jatuh saat fase panen, “Pungkasnya. (f3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *