Gubernur NTB Ajak Umat Islam Belajar Dari Kisah Fir’aun

Share and Enjoy !

tgb saat kajian subuh
MATARAM,LINTASNTB. Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul
Majdi atau yang lebih dikenal Tuan Guru Bajang (TGB) saat menyampaikan Kajian
Tafsir Al-Qur’an setelah sholat subuh, di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center,
NTB, Rabu (24/1), mengajak seluruh umat Islam untuk senantiasa belajar
dan mengambil hikmah dari kisah perjalanan hidup Fir’aun. TGB mengisahkan dalam
kajian tersebut, Fir’aun selama menjadi penguasa pada masa itu, tidak pernah
mau menerima dakwah dan seruan kebaikan yang disampaikan oleh Nabi Musa. Bahkan
Fir’aun menganggap dirinya sebagai tuhan yang memiliki kekuasaan serta kekayaan
yang melimpah.
Sebagai ilustrasi untuk
menggambarkan bagaimana kisah Fir’aun dalam Al-Qur’an, Gubernur Ahli Tafsir
tersebut membaca serta mengkaji Al-Qur’an Surat Az-Zukhruf Ayat 51-54. Dalam
Ayat tersebut dikisahkan oleh Allah SWT tentang Fir’aun yang tidak menerima
dakwah yang disampikan oleh Nabi Musa. Yakni mambandingkan kekuasaan dan
kekayaan yang dimilikinya dengan Nabi Musa. Di hadapan kaumnya, Fir’aun
menyampaikan bahwa yang mengontrol kekuasaan, yang menguasai ekonomi,  dan
yang memiliki pasukan paling banyak dan kuat pada masa itu di Mesir itu adalah
dirinya.  Dia membandingkan dirinya dengan Musa dari berbagai sisi
kehidupan, seperti keluarga, kekayaan, komunikasi dan hubungan atau support
pasukan. Dakwah yang disampaikan Musa ditentang dengan kekuasaan dan kekayaan
yang dia miliki.
“Dari kisah Fir’aun yang dijelaskan
dalam Surat Az-Zukhruf Ayat 51-54, kita dapat mengambil hikmah,” ungkap TGB.
Hikmah pertama lanjutnya, bahwa ajaran-ajaran kebaikan, yang mengajak pada satu
perbaikan sosial, atau satu ide besar untuk menggagas kehidupan yang lebih baik
pasti memiliki tantangan. Bahkan semakin besar tantangan itu, maka gagasan yang
kita sampaikan itu merupakan ide yang memiliki kadar kebaikan yang lebih besar.
“Kalau dalam keseharian, kita ingin melakukan kebaikan, terus kita mendapat
tantangan, halangan atau cercaan, maka jangan sampai itu menjadi halangan kita
untuk melakukan kebaikan,” ajak TGB.
Kemudian, TGB menguraikan hikmah
selanjutnya tentang perjalanan hidup Fir’aun yaitu, bahwa kekuasaan, kewenangan
dan kekayaan yang dimiliki seseorang seringkali disalahgunakan.  Hikmah
ketiga adalah tidak mengukur apa yang kita lakukan dengan hanya melihat materi.
Yakni, segala sesuatu yang ada dalam diri manusia, termasuk apa yang dilakukan
tidak semata-mata diukur dengan seberapa banyak harta yang dimiliki. “Jangan
lihat siapa yang sampaikan, lihatlah substansi yang dia sampaikan. Ini
mengajarkan kita untuk disiplin berfikir,” ungkap TGB.  Sebab menurut TGB,
apa yang disampaikan oleh seseorang, tanpa melihat siapa dan darimana dia
berasal, kalau itu mengandung nilai kebenaran dak kebaikan, maka itu merupakan
sebuah nasehat bagi kita. Menurutnya, kalau Allah masih mau memberikan kebaikan
kepada seseorang, maka akan datang padanya orang untuk mengingatkannya pada
kebaikan
Hikmah terakhir yang disampaikan TGB
saat itu, sebagai mahluk yang hidup secara kolektif, maka saling mengingatkan
itu merupakan sebuah kebutuhan dan keharusan. Sebab, kalau dalam masyarakat
tumbuh sifat atau karakter ketidakberdayaan kolektif, maka suatu bangsa akan
tidak dapat menangkal bahaya-bahaya yang timbul di masyarakat. Karena, masyarakat
tidak lagi peduli dan bahkan bersikap apatis terhadap kezdoliman yang ada.
“Semangat koreksi dan nasehat tetap harus kita tumbuhkan pada diri masyarakat,”
Pungkas Gubernur Hafizd Al-Qur’an tersebut.(cand)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *