Dizolimi Puluhan Tahun, Masyaraka Tanak Awu Tuntut PT. Angkasa Pura

Share and Enjoy !

Wawancara dengan kuasa hukum bapak Hamdan, SH(baju hem biru sebelah kanan)

MATARAM,LINTASNTB. Kedzaliman PT. Angkasa Pura AirPort Lombok dilawan oleh sekelompok masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Masyarakat Bandara Internasional Lombok yang lelah di dzolimi selama 24 tahun ini.


22 orang yang tergabung dalam komunitas tersebut berusaha mencari keadilan selama puluhan tahun ini belum di gubris oleh pemerintah setempat dan siang ini sedang mendaftarkan gugatan ke PTUN senin (19/2).


Komunitas masyarakat lombok tengah yang berasal dari desa tanak awu ini menuntut hak atas pembayaran tanah mereka yang belum terlunasi selama puluhan tahun ini.


Total luas tanah yang belum dibayar adalah 7 hektar lebih 10 are yang nilainya sekitar 100 milyar rupiah. Dalam usahanya,komunitas masyarakat bandara internasional telah bersurat ke Presiden Indonesia dan PT. Angkasa Pura AirPort Lombok.


“Kami sudah bersurat kepada presiden RI dan PT. Angkasa Pura yang ada di jakarta, salah satu dari isi surat kami adalah jika memang masyarakat yang 25 orang yang diwakili oleh 22 orang ini harus menuntut ke Pengadilan Negri maka akan kami lakukan dan telah kami lakukan kamis lalu, dan yang kedua kami harus tuntut adalah SK bupati yang mengatakan persoalan ini telah clear padahal berbanding terbalik 180 derajat” ujar Hamdan selaku kuasa hukum.


Dari informasi yang disampaikan oleh Hamdan,SH bahwa SK itu cacat hukum karena yang menjadi tim 1 (tim pengurus penyelesaian tanah) 21 orang namun yang bertanda tangan hanya 9 orang dan salah satunya pun kepala kesatuan reserse lombok tengah tidak bertanda tangan dan itu tidak memenuhi korum.


Ditanya pada tempat yang sama, pemilik tanah yang belum mendapat bayaran penuh akan melakukan ritual sakral khas lombok jika tuntutan mereka tidak terpenuhi setelah melakukan jalur hukum ini.


“Kami akan minum air tanah makam nyatok (makam yang dikenal keramat) sebagai bukti kesunggihan kami dalam menuntut hak kami jika ini tidak bisa diselesaikan dengan jalur hukum, kami siap mati demi mempertahankan hak kami” kata Lalu ramli pemilik tanah


Selain jalur hukum ini, masyarakat mempeesiapkan diri untuk melaksanakan upacara Rappah yang akan digelar di BIL tempat tanah yang belum dibayar lunas oleh PT Angkasa Pura. Upacara ini akan dilakukan oleh 22 orang penggugat.


“Saat ini kami sedang mempersiapkan upacara rappah di tanah yang belum dibayar tepatnya di runway, 22 orang penggugat ini siap mati dan keluarga lainnya pada upacara rappah nanti” ungkap H. Yusuf Mahsun.


Selagi menunggu sidang di Pengadilan Negri Praya pada senin depan, semua warga yang menuntut tetap berdoa agar usaha mereka berjalan lancar.(cand)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *