Ela, Relawan yang Menginspirasi

Share and Enjoy !

LOMBOK TIMUR,LINTASNTB. Hawa dingin menusuk kulit tidak dihiraukannya. Hanya membalut diri dengan jaket planelnya, Lailatul Ijtima’ tetap asyik melayani para korban bencana. 
Ditemui di dapur umum Posko Utama Bencana Gempa Bumi Pulau Lombok di Lapangan Umum Desa Medain Kecamatan Sambelia Lombok Timur, Ela, begitu ia biasa dipanggil, memilih untuk bertahan membantu para korban. 
Bersama 17 rekannya yang tergabung dalam Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Lombok Barat, Ela harus rela meninggalkan keluarganya demi membantu sesama yang sedang dirundung petaka. 
Gempa 6,4 Skala Richter yang mengguncang Pulau Lombok di Ahad pagi (29/07) telah mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Bencana itu memanggil hati Ela beserta para rekannya untuk rela berdingin-dingin di punggung Gunung Rinjani, gunung tertinggi ke tiga di Indonesia yang menjadi primadona para petualang.
Perempuan kelahiran 21 April 1989 seperti mengikuti jejak Kartini untuk tidak mau kalah dengan relawan yang didominasi kaum lelaki. 
“Aku senang membaur dengan masyarakat yang membutuhkan,” akunya saat ditanya mengapa rela bergabung dengan Tagana. 
Lebih dari delapan tahun sudah, Ela menunjukkan dharma bhaktinya sebagai relawan dalam aneka bencana yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat. 
“Membantu warga yang terkena musibah adalah panggilan kemanusiaan,” ujarnya menutur falsafah hidup yang menaungi dirinya dalam bekerja sebagai sukarelawan. 
Tidak hanya berkutat dalam urusan logistik di dapur umum, Ela sesungguh adalah satu dari 5 orang Relawan Layanan Dampingan Psikososial (LDP).
Tugas di dapur umum untuk menyiapkan makanan siap saji hanya bagian dari tugas besarnya, namun ia dikhususkan untuk membawa kegembiraan dan kekuatan moral bagi para korban bencana. 
“Trauma dan ketakutan adalah masalah utama selain masalah infrastruktur dan rekonstruksi,” paparnya. 
Perempuan asal Desa Bagik Polak ini sebelumnya pernah ditugaskan di Lombok Timur dan Bima saat daerah-daerah tersebut tertimpa musibah banjir bandang beberapa tahun lalu. Ia juga pernah mendampingi para pengungsi akibat meletusnya Gunung Agung di Bali. 
Seperti bencana-bencana tersebut, maka di Sembalun pun Ela harus mendampingi para korban, terutama anak-anak, untuk mampu melewatkan suasana bencana menjadi kekuatan. Ia harus mampu menghadirkan pergaulan yang menghantarkan kegembiraan buat mereka. 
“Bisa berbagi dengan mereka adalah kebahagiaan,” ujar Ela tersenyum. 
Ela tidak kuasa menahan air mata saat ditelisik soal imbalan bagi jasanya. 
“Kami (relawan Tagana, red) hanya diberikan 250 ribu setiap bulan dari Kementerian dan ditambah 300 ribu dari Pemda,” tuturnya sambil segera menyeka air mata yang tidak ia sadari jatuh berkali-kali dari bola matanya. 
“Panggilan kemanusiaan yang membuat kami bertahan,” tegasnya dengan berusaha tegar. Ia seperti tidak ingin ditanya lebih lanjut soal itu, namun di ujung ia meminta kepada Pemerintah agar para relawan bisa lebih diperhatikan. 
Kepala Bidang Pelayanan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosial Lombok Barat, Baiq Apriana Rohmawiyanti membenarkan pengakuan Ela. 
“Mestinya kita bisa lebih memperhatikan mereka. Di saat bencana seperti ini, mereka (Tagana) adalah yang terdepan. Belum lagi saat bencana kekeringan, Tagana ini hampir setiap hari harus turun mengantar air bersih ke warga. Saya berharap, minimal kita bisa memberikan tambahan operasional saat mereka bertugas,” keluh dan harap dengan nada prihatin dari Yanti sambil membandingkannya dengan tenaga sejenis di instansi-instansi lainnya. 
Ela bersama rekan-rekannya tetap mengedepankan keikhlasan dan kesukarelaan dalam membantu para korban. Tidak sedikitpun mereka undur dari pergolakan mendampingi para korban. 
Satu hal yang Ela keluhkan, dan mungkin dikeluhkan juga oleh para anggota relawan lainnya, adalah meninggalkan keluarga. 
“Dukanya adalah jauh dari keluarga,” aku Ela yang baru menikah belum satu bulan. 
Sang suami pun harus mengerti pekerjaan dan tanggung jawab seirang relawan kemanusiaan,” pungkasnya.
Ela tetap bertahan diterpa dingin malam di sembalun. Bersama rekan-rekannya, ia dengan gembira menyiaokan makanan di dapur umum yang tersusun dalam kendaraan taktis sumbangan Kementrian Sosial. Sesekali mereka tertawa bercanda seakan lupa dengan keluarga yang mereka tinggalkan. mereka adalah orang-orang yang pantas diperhatikan disaat hanya rasa prihatin yang di sampaikan orang, mereka bergegas terjun.(rls/cand)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *