Cerita Pengungsi Masjid Agung Lombok Tengah

Share and Enjoy !

LOMBOK TENGA,LINTASNTB. Tenda berdiri dimana-mana di setiap jalan dan lapangan. Di Masjid Agung Lombok Tengah ada cerita pilu dari seorang pengungsi.
Namanya Setiasim Warga Tanjung Lombok Utara, Ibu yang sudah berumur 30-an Tahun Bersama Anaknya  mencoba tegar saat bercerita di depan kami. Bersama keluarga kecilnya ia mengungsi di area Masjid Agung.
Mencari makan dengan meminta-minta di kantor sekitaran masjid agung, kadang ia diantarkan oleh warga setelah ia ditau dari Lombok Utara.
Alamat aslinya Dusun Montong Desa Jenggala Kecamatan Tanjung. Rumahnya rusak dan anak pertamanya meninggal ditimpa bangunan saat ia berada didalam rumahnya. Dimakamkan tanpa ia melihat pemakaman anaknya. 11 anggota keluarganya menjadi korban gempa.
Awal ceritanya ia menjadi pengungsi di masjid agung mulai dari hari sabtu sebelum gempa suaminya ingin melihat Masjid Agung Peraya, Suaminya punya firasaat buruk pada hari itu sehingga ia memutuskan untuk menginap satu malam dirumah keluarganya.
Pada hari minggu dia menerima kabar bahwa rumah mereka sudah ambruk. Trauma mereka mulai dari hari itu, disaat gempa susulan yang lebih besar Anak pertamanya meninggal dunia. 
Rasa takut untuk saat ini menghantui dirinya sehingga ia dan suaminya memutuskan untuk tetap mengungsi sebelum kondisi benar- benar aman.
” saya takut pulang, kalo sudah aman ibu wajib pulang nak” ungkap ia saat bercerita.
Setiasih sangat berharap rumah mereka sudah didata oleh pihak pemerintah disana. Dan bisa mendapatkan bantuan seperti korban lainnya
Setiap hari ia hadapi penuh dengan rasa tegar dan penuh dengan rasa optimis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *