Irawan, Tinggalkan Keluarga Demi Jadi Relawan

Share and Enjoy !

LOMBOK UTARA,LINTASNTB. Irawan,S,Sos Pria kelahiran 13 Nopember 1993, asal Lampung rela meninggalkan sanak saudaranya untuk bergabung menjadi seorang relawan di dompet dhuafa. Tidak pernah ada niat dan cita – citanya menjadi seorang relawan. Irawan bercerita tentang kisahnya ketika bergabung dengan dompet dhuafa pada wartawan LINTASNTB pada hari Senin,19 Nopember 2018 di Gangga Lombok Utara. Awal dirinya ingin bergabung di dompet dhuafa ketika terjadi gempa di Lombok Utara dan sebelumnya dia aktif mengajar di sekolah sedang di Lampung.
” Saya adalah seorang guru disalah satu sekolah swasta yang ada dilampung kemudian mengundurkan diri dan memilih untuk menjadi relawan Guru dompet dhuafa. Bukan perkara mudah ketika harus memutuskan untuk resign dari guru sekolah trsebut, karena selain sudah cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup pribadi dan membantu pembayaran biaya kuliah adik bungsu, tapi berat untuk meninggalkan anak – anak disekolah yang sangat saya sayangi ” kata Irawan sambil menetes air matanya mengingat anak didiknya di Lampung.
Yang menjadi masalah ketika akan bergabung relawan dompet dhuafa adalah tidak disetujuinya oleh  keluarga dari mulai ibu,  kakak dan saudara – saudara ku lainya.  Dengan alasan bahwa mereka khawatir dengan keadaan dilombok yang belum stabil,tidak aman dan masih terjadi gempa – gempa kecil,  mereka khawatir juga jika terjadi sesuatu maka tidak ada sanak saudara yang akan membantu. 
Tapi Wahyu salah seorang relawan yang  lebih dulu bergabung dengan dompet dhuafa dan lebih senior dengan sabar memberikan penjelasan sambil berikan dan meyakinkan kepada keluarga bahwa Irawan akan baik – baik saja dan insyallah akan bisa menjaga diri,  dan menjelaskan niat nya adalah tulus dan iklas untuk membantu anak – anak di Lombok Utara yang sedang tertimpa musibah, dengan berat hati merekapun mengizinkan.
Lebih jauh Irawan bercerita kepada awak media ini, bahasa alasan paling mendasar dibalik itu semua menjadi seorang relawan adalah ingin membagi kebahagian dengan anak – anak korban gempa di lombok utara melalui program guru relawan sekolah ceria Dompet Dhuafa karna dia yakin akan menemukan makna hidup yang sebenarnya ketika kita gunakan untuk berbagi dan Kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa menciptakan senyuman kepada orang lain dan bisa memahami makna dari kata hidup itu sendiri. ( Msj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *