Tingkat Perceraian di Dompu Tinggi, Panitera PA Ungkap Motifnya

Share and Enjoy !

Dompu – Kasus perceraian di Kabupaten masih cukup tinggi bahkan ada peningkatan selama tahun 2018.
Hal itu diungkapkan oleh Panitera Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Dompu, Suharto, S. Ag kepada media ini di ruang kerjanya pada Selasa, (1-1-2019).
“Kasus perceraian ada peningkatan,” jawabnya singkat.
Kendati demikian, Suharto tidak menyebutkan secara rinci jumlah kasus cerai gugat maupun cerai talaq yang terselesaikan pada tahun 2018 ini. 
Ia hanya mengungkapkan secara keseluruhan jumlah perkara gugatan yang diajukan di PA Dompu selama tahun 2018 dan perkara permohonan. Perkara gugatan memuat cerai gugat, cerai talak, waris, dan harta bersama. Sedangkan perkara permohonan di antaranya itsbat nikah dan dispensasi kawin.
“Perkara gugatan yang masuk secara keseluruhan 876 perkara ditambah lagi perkara permohonan 282 perkara,” paparnya.
Lebih lanjut Suharto mengungkapkan kasus-kasus perceraian di Kabupaten Dompu didominasi cerai gugat yakni pengajuan dari istri untuk bercerai dengan suaminya. Kasus cerai gugat ini memiliki motif yang bermacam-macam.
Antara lain karena alasan ekonomi. Suami dinilai tidak bertanggung jawab menafkahi istri dan anak-anaknya. Pernikahan di bawah umur seringkali menjadi pemicu perceraian dengan alasan ekonomi ini. Ada juga karena alasan munculnya pihak ketiga dalam keluarga tersebut alias suami kawin lagi atau akibat terjadinya perselingkuhan. 
Suami yang ‘ringan tangan’ alias suka memukul atau menampar juga dapat menjadi alasan bagi istri untuk menggugat ceraikan suaminya.
“Tetapi untuk yang suka memukul ini biasanya saat memasukkan laporan dengan alasan yang lain. Rata-rata tidak dilaporkan alasannya karena terjadinya kekerasan,” terangnya. 
Ada juga yang memasukkan laporan cerai gugat karena suami suka meminum minuman keras dan berjudi. Selain itu, lanjutnya tak sedikit pula terjadinya cerai gugat akibat suami pergi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun meninggalkan istrinya tanpa ada kabar berita.
“Ini namanya cerai gugat secara ghaib karena suami yang digugat tidak diketahui keberadaannya. Prosesnya menunggu 4 bulan. Tahun 2018 ada lebih dari 10 perkara,” jelasnya. 
Ditegaskan Suharto, dalam menangani kasus cerai gugat maupun cerai talak, pihaknya selalu mengedepankan langkah mediasi agar pasangan suami istri itu tidak bercerai.
” Mediasi tetap kami utamakan,” tutupnya. (emo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *