Guru dan Kurikulum Masa Kini

Share and Enjoy !

OPINI-Berbicara tentang inovasi pendidikan tentu kita akan membahas tentang keterampilan maupun metode atau cara belajar mengajar. Sejak tahun 2013/2014 pendidikan di Indonesia sudah menggunakan kurikulum 2013. Yang dimana kurikulum 2013 ini merupakan kurikulum yang berlaku dalam sistem pendidkan Indonesia, yang menurut saya pribadi absurd memaksa murid menjadi robot dan guru lebih mudah menghindar dengan entengnya mengatakan “kan ada Google”. Apakah kurikulum 2013 ini sudah efektif bagi pendidikan Indonesia? Jawabannya “Jauh dari kata tidak efektif”.

Jika saya ditanya, jika kelak saya di berikah kesehatan, kesempatan, dan rizki mendirikan sekolah, apakah saya akan menerapkan kurikulum 2013? Tentu “tidak”. Saya akan mendirikan kurikulum sendiri, tidak berpacu pada kurikulum 2013 yang memperbudak siswa.

Apalagi sekarang zaman sudah serba canggih, dan kita sudah berada pada zaman 4.0. mendidik anak milenial tidak semudah membalikkan telpaak tangan, guru masih berada pada zaman semono sedangkan murid sudah berada pada zaman now. Guru harus mempunyai keterampilan dalam mendidik ataupun membimbing muridnya. Guru harus bisa beradaptasi dengan peradaban milenial, misalkan dengan mengasah kreativitas, kecerdasan emosional, melakukan kolaborasi dengan murid, bisa bekerja sama menyelesaikan masalah yang kompleks dan fleksibitas kognitif.

Jika lima keterampilan tersebut di gunakan guru membimbing muridnya maka murid akan bisa mnyesuaikan diri dengan peradaban milenial yang identik dengan kecerdasan buatan. Kenapa kecerdasan buatan? Kareana lokasi pengetahuan abad 21 telah bergeser dari guru ke internet.

Pada dasarnya murid memilki keinginan untuk belajar, keinginan itu redam karena gurunya dengan gaya munual atau zaman old. Sebagai guru juga harus merasa tertantang dengan perubahan zaman, bagaimana guru dan sekolah harus bisa menjadikan belajar itu menarik, menyenangkan dan menawarkan pengalaman yang menantang bagi siswa. Sebagaimana yang di tawarkan oleh dunia gawai dengan game onlinenya yang membuat murid jadi kecanduan.

Ruang kelas di Indonesia masih berpijak pada guru yang berdiri di depan papan tulis dan menggunakan buku teks sedangkan murid di belakang asyik nge-tweet. Sebenarnya tantangan sudah ada pada setiap guru, mau jadi guru biasa-biasa saja atau guru luar biasa? Jika ingin menjadi guru yang luar biasa, maka metode mengajarnya jangan itu-itu saja, sebagai guru milenial harus bisa berkreasi dan berkarya.

Menjadi pemuda, bawalah perubahan dalam ranah pendidikan. Bung karno pernah berkata “ Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia. Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia”.

Menjadi pemuda harus mempunyai sifat disruptive mindset yang bisa memandang kecerdasan sebagai sesuatu yang bisa dikembangkan sehingga mereka lebih leluasa, mendapatkan pelajar dari orang lain, belajar dari kritikan, menyukai tantangan serta ramah dalam perubahan. Maka rendah hatialah dan anggap semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah.

Jadi bagaimanapun Mas Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim ingin memajukan pendidikan Indonesia dengan menghapus Ujian Nasioanal atau merombak kembali Kurikulum Pendidikan Indonesia saya yakin masih belum optimal, jika kompetensi dan kreativitas guru belum di asah atau di tingkatkan maka pendidikan Indonesia akan tetap jalan di tempat.

#Salam Pendidik Cerdas.
Oleh : Siti Laila Ismiratul Hilali Al-Adnani
Mahasiswa Universitas Hamzanwadi Smstr 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *