Jum. Jul 10th, 2020

LINTASNTB

Dari NTB Untuk Dunia

Desa Sade, Desa Suku Sasak yang Kental Tradisi

2 min read


LINTAS NTB, Lombok Tengah – Desa Sade atau wisatawan biasanya menyebutnya dengan sebutan Sasak Village merupakan sebuah Desa yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah, tepatnya di kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Sekilas mungkin sama dengan desa-desa lainnya di pulau Lombok, namun ternyata desa ini sangat memegang erat tradisi dan budaya suku sasak. Desa Sade selalu didatangi oleh para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara dengan tujuan untuk mengetahui lebih dalam tentang tradisi suku sasak.


Desa ini memiliki luas sekitar 3 hektar, dengan bale tani (sebutan untuk rumah warga) berjumlah 150 bangunan yang tidak pernah bertambah atau berkurang jumlahnya, serta kurang lebih 150 KK dimana hampir seluruhnya masih memiliki ikatan keluarga. Selain itu terdapat beberapa lumbung padi yang digunakan untuk menyimpan persediaan padi masyarakat desa.

Berikut ini beberpaa fakta dan keunikan desa Sade yang berkaitan dengan budaya dan tradisi masyarakat suku Sasak.

Mengepel Lantai Menggunakan Kotoran Kerbau

Rumah-rumah yang ada di desa ini merupakan rumah yang masih sangat tradisional, atapnya terbuat dari alang-alang yang bisa kokoh sampai maksimal 10 tahun. Tembok rumahnya pun menggunakan bambu dan lantai yang masih menggunakan tanah. Dalam membersihkan lantai tanah inilah masyarakat desa Sade menggunakan kotoran kerbau yang masih segar. Masyarakat percaya dengan menggunakan kotoran kerbau ini lantai tanah akan bebas dari kuman penyakit, selain itu tradisi ini dipercaya dapat menolak bala.

Masyarakat Perempuan Wajib Bisa Menenun


Menenun merupakan tradisi yang ada di desa ini, mulai dari menenun songket, selendang, sampai dalam bentuk baju adat Sasak yaitu Lambung. Perempuan yg ada didesa ini diwajibkan untuk bisa menenun sebelum menikah. Perempuan tidak diperbolehkan untuk menilah apabila belum bisa menenun. Sebab itu perempuan usia anak-anak di desa ini sudah mulai diajarkan untuk menenun.

Tradisi Culik Untuk Menikah

Menikah di desa ini masih sangat kental dengan tradisi culik. Tradisi ini ‘wajib’ dilakukan apabila seorang laki-laki dan perempuan yang berniat untuk menikah. Sebab itu budaya lamaran atau tunangan tidak ada dalam tradisi desa ini. Pemuda yang menikah di desa ini biasanya masih berusia sangat muda, dan bisa dikatakan pernikahan dini sudah menjadi tradisi. Menikahpun biasanya masih dengan keluarga atau masyarakat desa. Apabila ada yang menikah dengan masyarakat luar desa, maka dipersilahkan untuk tinggal diluar desa tersebut sebab tidak diperbolehkan ada penambahan jumlah rumah di desa Sade ini, kecuali anak bungsu yang wajib tinggal bersama orangtuanya.

Laki-laki yang Belum Menikah Dilarang Mengambil Padi Di Lumbung

Lumbung padi, tempat penyimpanan yang berbentuk mirip gazebo dimana diatas atapnya yang menggunakan ilalang dibuat sebuah ruang untuk menyimpan padi, sebab matapencaharian masyarakat adalah petani. Lumbung padi yang merupakan tempat penyimpanan padi ini ternyata hanya boleh diambil oleh masyarakat laki-laki yang sudah menikah saja. Apabila diambil oleh laki-laki yang belum menikah, dikatakan bisa mendapat bala atau tidak bisa menikah.

Itulah beberapa fakta unik tentang desa Sade, desa wisata suku sasak yang sangat beragam tradisinya. Apabila tertarik untuk berkunjung dapat langsung menuju Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 1 Jam dari kota Mataram, dan sekitar 30 menit dari Bandara Internasional Lombok. (af)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © lintasntb.com | Newsphere by AF themes.