Solusi Islam Atasi Eksplorasi Gunung Semoan

Solusi Islam Atasi Eksplorasi Gunung Semoan

Share and Enjoy !

Oleh : Rahmawati
Aktivis Muslimah, Praktisi Pendidikan

Puluhan masa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Sumbawa Barat Mencari Keadilan (GMSBMK) melakukan aksi tolak penambangan gunung Samoan dan menuntut Pemerintah KSB mencabut izin penambangan tersebut dan menolak segala bentuk aktivitas dan rencana Eksplorasi Olat (Gunung-red) Samoan Taliwang oleh PT Sumbawa Barat Mineral (PT SBM).

Menurutnya Gunung Semoan merupakan jantung Kota Taliwang dan menjadi sumber mata air bagi ratusan kepala keluarga yang tinggal di kaki gunung tersebut. Jika pemerintah tidak mencabut izin maka ratusan kepala keluarga yang tinggal di lokasi tersebut terancam terdampak bencana. Mulai dari tanah longsor sampai dengan bencana lainnya, apalagi dampak lingkungan yang ditimbulkan juga sangat besar.

Eksploitasi Gunung Semoan ini sebenarnya tidak jauh beda dengan eksploitasi Batu Hijau yang dilakukan oleh PT Newmont Nusa Tenggara yang sekarang berubah nama ke PT Amman Mineral, dimana dalam pengelolaannya dilakukan oleh swasta dan asing, sehingga masyarakat hanya mendapatkan dampak yang ditimbulkan oleh eksploitasi tersebut, terlebih karena juga letak dari Gunung ini sangat dekat dengan pemukiman penduduk, sehingga dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat.

Adanya Eksplorasi Gunung Semoan ini sebenarnya tidak bisa lepas dari Kebijakan Undangan-Undang yang diterapkan di negeri ini, yang membolehkan Swasta Asing untuk mengeruk Sumber Daya Alam, Sehingga Kebijakan Undangan-Undang yang diterapkan juga akan berdampak kepada kebijakan daerah.

Pada Faktanya masyarakatlah yang akan mendapatkan dampak dari eksplorasi tersebut, dimana 90 % kekayaan alam dikelola oleh pemilik modal yaitu swasta dan Asing, 10 % diperebutkan oleh rakyat, rakyat dibiarkan mencari receh, dituntut dengan berbagai aktivitas UMKM, dan lain-lain, sementara kekayaan alam terbesar dibiarkan dijarah oleh Kaplitalis, Asing dan Swasta.

Ini sangat berbeda ketika semuanya diatur oleh Islam sebagai agama yang paripurna dimana kekayaan alam gunung merupakan jenis kepemilikan umum sehingga pengelolaannya diserahkan negara dan hasilnya akan dikembalikan kepada umum sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas berupa penyediaan fasilitas Rumah Sakit yang berkualitas dan gratis, Pendidikan, sarana dan prasarana yang memadai, menyiapkan lapangan kerja yang seluas-luasnya, sehingga masyarakat bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam islam, Negara adalah penanggungjawab langsung pengaturan urusan rakyat. Penguasa dalam Islam adalah pelayan rakyat, bukan agen korporasi. Seluruh layanan dalam negeri dan luar negeri diatur negara berdasar paradigma ri’ayah (pelayanan).

Islam tidak mengenal paradigma kebebasan dalam kepemilikan umum sehingga sumber daya alam bukanlah milik penguasa atau swasta, dan haram diserahkan kepada segelintir orang, pengusaha raksasa atau korporasi.

Aset-aset milik umat harus dikelola oleh negara untuk kemaslahatan umat.
Penguasa menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat secara keseluruhan. Baik kebutuhan individu berupa kebutuhan pokok, maupun kebutuhan kelompok, berupa pendidikan, kesehatan dan keamanan.

Mekanismenya, dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Memberikan subsidi dalam layanan pendidikan, kesehatan, administrasi, transportasi dan segala urusan rakyat.

Terdapat perbedaan
sangat mendasar antara sistem buatan manusia dan sistem sempurna buatan Allah Swt. Tidak ada alasan untuk mencari model tata dunia baru di luar Islam. Menerapkan sistem kapitalisme demokrasi, apalagi korporatokrasi, adalah kemaksiatan terbesar penguasa saat ini. Kerugian dan kezaliman saja yang didapatkan.

Bahkan, bukan saja manusia yang merasakan kerusakan dan kehancuran, tetapi juga bumi, baik di laut maupun di daratan. Allah Swt. berfirman:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (TQS: Surat Ar Rum: 41).

Dengan demikian, satu-satunya cara untuk menyelamatkan bumi dan umat manusia adalah mencampakkan sistem kapitalisme global dan menegakkan sistem Islam.
Semoga ini segera terwujud, Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *