Sab. Des 5th, 2020

LINTASNTB

Dari NTB Untuk Dunia

Pasangan SALAM Meneladani Pahlawan Nasional

5 min read

LINTAS NTB, Mataram – 21 Oktober 23 tahun lalu, Almagrufullah Maulana Syaikh TGKH Zainuddin Abdul Madjid wafat. 21 Oktober 2020 kemarin, Hj Putu Selly Andayani dan TGH Abdul Manan datang berziarah ke makam ulama kharismatik yang juga Pahlawan Nasional dari NTB tersebut.

 
Melepas alas kaki, dengan takzim Hj Putu Selly Andayani berjalan ke area makam Almagfurullah Maulana Syaikh. Dan selanjutnya adalah khidmat. Di depan makam yang terletak dalam kompleks Musala Al Abror, Pondok Pesantren Darunahdhlatain Nahdlatul Wathan tersebut, Selly bersimpuh. Calon Wali Kota Mataram tersebut khusyuk dalam dzikir dan doa.

Ziarah digelar sederhana. Selly hanya membawa rombongan kecil dari Mataram. Didampingi Calon Wakil Wali Kota Mataram TGH Abdul Manan beserta isteri tercintanya dan keluarga inti. Turut serta Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Mataram Hj Istiningsih dan Sekretaris DPC PDIP Kota Mataram Nyayu Ernawati.

Ziarah tersebut dilakukan tepat pada haul ke-23 Maulana Syaikh. Pendiri Madarasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) tersebut wafat pada Selasa, 21 Oktober 1997. Hari yang akan selalu dikenang mengingat kehilangan dan duka mendalam yang dialami umat Islam Bumi Gora kala itu.

Bagi Hajjah Selly, ziarah ke makam Almagfurullah memiliki arti yang teramat penting. Bukan lagi sebagai kewajiban insan yang masih hidup. Atau wujud dharma bakti generasi penerus pada pahlawan kusuma bangsa. Tapi lebih dari itu.

Selly mendapat banyak wejangan dari sang suami H Rachmat Hidayat. Betapa Almagfurullah telah begitu banyak memberi pada keluarga besar mereka. Mendiang mertuanya, Guru Ramiah dan Ratnasih di Rumbuk, Sakra, Lombok Timur, begitu dekat dengan Almagfurullah.

“Sebagai ulama, doa beliau diijabah oleh Allah. Apa yang kami capai sebagai keluarga hari ini, adalah karena doa dan karomah Almagfurullah,” kata Selly usai menjalani ziarah.

Semasa hidupnya, dalam setiap perjumpaan dan silaturahmi keluarga, Almagfurullah selalu memanjatkan doa untuk pencapaian terbaik suaiminya dan keluarga. Selly diberitahu, bagaimana Almagfurullah memegang kepala suaminya yang masih muda kala itu dan meniup ubun-ubunnya di setiap penghujung doa. Publik Bumi Gora kini mencatat, betapa Rachmat Hidayat memiliki karir politik yang gemilang. Saat ini adalah periode ketiga politisi berambut perak tersebut duduk sebagai Anggota DPR RI setelah sebelumnya berkarir panjang di DPRD kabupaten dan provinsi.

Selly mengungkapkan, Almagfurullah adalah qudwah hasanah. Teladan kebaikan bagi dirinya, sang suami, dan seluruh keluarga besar. “Almagfurullah adalah panutan kami,” katanya.

Penjabat Wali Kota Mataram tahun 2015 ini tahu, bagaimana Almagfurullah menjadi mercusuar pengembangan pendidikan Islam dan pendidikan umat di NTB. Tiada hendak menafikan peran serta para aulia dan ulama kharismatik Bumi Gora yang lain, Selly menekankan betapa kecemerlangan dan kegemilangan dunia pendidikan Islam di NTB saat ini, atas sumbangsih besar Almagfurullah.

Sejarah mencatat, ulama kharismatik yang lahir pada 5 Agustus 1898 di Bermi, Pancor tersebut, selain sebagai ulama dan pejuang, juga adalah pelopor pendidikan di Pulau Lombok. Almagfurullah adalah orang pertama di NTB yang memperkenalkan penggunaan kursi dan meja dalam belajar agama. Sistem ini diterapkan pada lembaga pendidikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniah Islamiyah dan Madrasah Nadhlatul Banat Diniah Islamiyah yang didirikannya selepas kembali dari menimba ilmu di Makkah pada 1937 silam.

“Dan itu dilakukan beliau dalam intimidasi penjajah kolonial Belanda,” kata Selly.

Karena itu, bagi Selly, Almagfurullah adalah pejuang agama dan juga pejuang negara. Sebab, lembaga pendidikan yang didirikan Almagfurullah pada akhirnya lebih dari sekadar tempat belajar ilmu keagamaan. Madrasah NWDI dan Madrasah NBDI yang didirikannya digunakan sebagai basis perlawanan terhadap penjajahan. Bahkan saat perang revolusi kemerdekaan, Almagfurullah bersama para guru menginisiasi pembentukan “Gerakan Al-Mujahidin”.

Sejarah mencatat, bersama gerakan-gerakan rakyat lain di Pulau Lombok, Al-Mujahidin berjuang mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan Soekarno-Hatta di Jakarta. Almagfurullah memimpin penyerbuan tanksi militer milik NICA, Tentara Sekutu, di Selong pada 7 Juli 1946. Dalam peristiwa tersebut, TGH Muhammad Faisal Abdul Majid, adik kandung Almagfurullah gugur.

Kemarin, selepas ziarah dari makam Almagfurullah, Selly bersama TGH Abdul Manan dan rombongan kemudian berziarah dan melakukan tabur bunga pula ke makam TGH Muhammad Faisal di Makam Pahlawan Rinjani di Selong. Almarhum TGH Muhammad Faisal adalah pejuang pertama yang dimakamkan di Makam Pahlawan tersebut.

 
Ziarah ke Makam Orang Tua
 

Sementara itu, sebelum ziarah ke makam Almagfurullah Maulana Syaikh, Selly terlebih dahulu nyekar ke makam mendiang orang tua sang suami, Guru Ramiah dan Ratnasih, di kompleks pemakaman keluarga besar di Rumbuk, Kecamatan Sakra, Lombok Timur.

Di kompleks pemakaman tersebut, Hajjah Selly berdzikir dan memanjatkan doa dengan khusyuk agar kedua orang tuanya dan seluruh keluarga yang telah berpulang mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. Turut mendampingi ziarah ke makam keluarga ini para keluarga besar yang ada di Rumbukdan sejumlah Tuan Guru.

Sementara itu, bersama TGH Manan, selepas dari Makam Pahlawan Rinjani, rombongan Hj Selly juga melihat dari dekat Tugu Nasional yang ada di Selong. Tugu ini adalah tugu pahlawan.

Tugu tersebut kini berada di depan kompleks kediaman resmi Bupati Lombok Timur. Tadinya, tempat di mana tugu ini berada, adalah lokasi makam pahlawan di Lombok Timur sebelum kemudian dipindahkan ke Makam Pahlawan Rinjani di lokasi sekarang. Selepas dari sana, rombongan kemudian kembali ke Mataram.

 
Silaturahmi dengan TGB
               
Di lain sisi, kemarin, awak media juga menyampaikan pertanyaan menggelitik ke Hajjah Selly. Ini terkait langkah dirinya yang tidak terlihat bersilaturahmi ke TGB HM Zainul Majdi, seperti sejumlah kandidat yang akan maju dalam Pilkada Kota Mataram.

Selly menuturkan betapa hubungan dan kedekatan dengan Gubernur NTB dua periode tersebut masih terjalin sangat erat. Komunikasi juga terjalin dengan sangat baik. Bagi Selly, TGB adalah sosok yang dijunjung tinggi dan akan selalu ditempatkannya sebagai pemimpin dan panutan.

“Beliau akan selalu seperti itu. Karena buat saya, tidak ada istilah mantan pemimpin,” kata Selly.

Dia menegaskan, TGB saat ini adalah milik seluruh umat. Milik seluruh masyarakat Bumi Gora. Bahkan, saat ini cucu pahlawan nasional Almagfurullah Maulana Syaikh tersebut bukan hanya tokoh Bumi Gora. Melainkan sudah menjadi tokoh nasional menyusul kiprah dan sumbangsihnya untuk Indonesia.

Karena itu, Selly tidak ingin mengkoyak-koyakkan hal tersebut. Apalagi dengan datang bersilaturahmi lalu berharap-berharap mendulang insentif elektoral dari hal tersebut. Dirinya tak mau seperti itu.

Buat Selly, sebagai pemimpinnya di lingkup birokrasi Pemprov NTB, TGB tahu persis kapasitasnya. Hafal kemampuan dirinya. Mengenal persis bagaimana cara dirinya bekerja. Mulai dari perencanaan hingga mengeksekusi dan mengevaluasi program di lapangan.                

Bahkan TGB pula yang pada masa jabatannya sebagai Gubernur NTB menunjuk dan melantik dirinya sebagai Penjabat Wali Kota Mataram tahun 2015. Sebuah kepercayaan yang kemudian bertekad dibalas Selly dengan bekerja sebaik-baiknya untuk kemaslahatan masyarakat Kota Mataram. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © lintasntb.com | Newsphere by AF themes.