Ketua KTK Pujut : Gubernur Manfaatkan Bencana Banjir Untuk Pencitraan Semata

Ketua KTK Pujut : Gubernur Manfaatkan Bencana Banjir Untuk Pencitraan Semata

Share and Enjoy !

LINTAS NTB, Lombok Tengah – Banjir Bandang yang terjadi di beberapa desa di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Sabtu (30/2/2021) lalu menimbulkan beberapa kerugian masyarakat serta dampak yang panjang dan beruntun. Terutama yang menghantam sejumlah desa yang kondisinya terparah seperti Desa Kuta, Sukadana dan Desa Mertak. Seperti trauma, kerugian materi dan lainnya. Bahkan akhir-akhir ini, Satgas tanggap bencana Karang Taruna Kecamatan (KTK) Pujut menemukan sejumlah penyakit yang timbul di tengah masyarakat.

Ironisnya, ketiga desa tersebut merupakan Zona inti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang merupakan lokasi pembangunan balapan MotoGP Indonesia yang saat ini pembangunannya sedang di kebut. Yang tentu saja ini merupakan permasalahan serius bagi proyek prioritas pusat yang di tetapkan sejak beberapa tahun ini.

Untuk meringankan beban warga terdampak, KTK Pujut yang tanggap mendirikan Posko sejak 30 Januari lalu hingga saat ini bersama sejumlah relawan dari berbagai komunitas. Dalam aksi sosial tersebut, organisasi menemukan berbagai keluhan dan beragam hasil investigasi penyebab banjir di lapangan.

Seperti yang diutarakan Ketua KTK Pujut, Sri Anom Putra Sanjaya menyatakan, jika melihat kondisi korban banjir saat ini, jika tidak ada penanganan serius maka penderitaan masyarakat akan semakin parah. Karena ia melihat belum ada penanganan dari pemerintah daerah di bawah. Sebut saja, di salah satu titik di Desa Kuta. Jika masyarakat tidak mendatangkan alat berat secara swadaya, maka air hingga kini pasti akan masih tinggi menggenangi rumah warga. Selain itu, di Desa Mertak juga demikian, belum ada tindakan pemerintah yang jelas.

“Kalaupun pak gubernur sudah turun di beberapa lokasi banjir beberapa hari lalu, itu tidak bisa dikatakan peduli. Pak gubernur kami lihat datang hanya selfy saja dan kami anggap itu hanya pencitraan,” sentil Anom.

Anom juga menambahkan, perihal penyebab banjir di Kecamatan Pujut, ia menilai terjadi salah satu faktornya yakni karena saluran drainase yang tidak normal. Sehingga jika ini tidak segera ditangani pemerintah, maka banjir akan kembali terjadi selama musim hujan. Bahkan dampaknya bakal lebih besar lagi dari yang kemarin. Kondisi ini baginya membuat masyarakat akan semakin resah dan terganggu karena di hantui terus oleh kemungkinan terjadinya bencana banjir susulan. Selain itu, kondisi ini akan mengganggu psikologi masyarakat karena tidak bisa beraktivitas normal seperti sebelumnya.

“Saya ibaratkan banjir ini seperti sakit gigi, maka bantuan sembako ini obat peringan saja, bukan penyembuhan penyakit. Aksi nyata memperbaiki pokok penyebab banjir ini harus dituntaskan,” sebut pemuda yang juga Ketua BUMDes Mertak ini.

Lebih jauh disampaikannya, bahwa yang lebih fatalnya lagi menurutnya yakni lokasi banjir ini terjadi di KEK Mandalika. Yang mana, tentu ini seharusnya steril dari berbagai bencana karena tempat wisata itu harus nyaman dan aman dari banjir. Bukan malah tempatnya rawan banjir.

“Bagaimana penonton bisa nyaman jika mereka di hantui banjir. Desa Mertak dan Sukadana ini kan direncanakan sebagai kawasan atau lokasi inap para tamu ke depannya. Jika tidak steril dari banjir, lalu wisatawan mana yang akan mau menginap di sini,” katanya dengan nada miris.

“Ayolah pemerintah segera bertindak, masyarakat tidak butuh selfy-selfy, masyarakat butuh penanganan serius dari pemerintah. Ini sudah beberapa hari lo, kami tunggu gerakannya,” tutupnya

Senada juga disampaikan Haji Bangun, salah satu tokoh masyarakat Desa Mertak. Terhadap banjir itu, ia juga melihat bahwa saat ini langkah terpenting selain pemberian bantuan sosial yakni perbaikan infrastruktur. Karena baginya, akan lebih efektif dalam keberlanjutan ekosistem. Artinya, pemerintah mestinya fokus untuk mencari solusi untuk penanganan penyebab banjir dari hulu sampai hilir.

“Pemerintah harus ambil tindakan serius soal penyebab banjir ini. Jangan kita terlena dengan penyaluran Bansos saja,” saran mantan Kepala Desa (Kades) Mertak dua periode ini.

Bangun juga menerangkan, bahwa pemberian Bansos tanpa perbaikan infrastruktur bukan solusi. Sehingga untuk saat ini Pemda, baik Pemkab maupun Pemprov harus punya langkah khusus mengurai persoalan ini sebelum dampaknya lebih besar lagi. Apalagi, tiga desa yang terparah banjir itu berada di kawasan inti KEK Mandalika.

“Jembatan, saluran, jalan dan lainnya yang rusak karena banjir kemarin, itu penting untuk kita perhatikan. Apa penyebab lainnya juga diuraikan. Ya misalnya kalau galian C, ya dihentikan,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *