Didatangi Pendemo, Kapolres KSB Diminta Evaluasi Kinerja Penyidik Polsek Maluk

Didatangi Pendemo, Kapolres KSB Diminta Evaluasi Kinerja Penyidik Polsek Maluk

Share and Enjoy !

LINTAS NTB, Sumbawa Barat – Kekecewaan atas penanganan hukum yang menimpa Dewi Jayanti di Polsek Maluk berbuntut panjang. Sejumlah massa aksi dari Forum Rakyat Peduli Keadilan Sumbawa Barat (FRPKSB), menggedor Polres Sumbawa Barat, serta meminta Kapolres untuk mengevaluasi kinerja oknum penyidik di Polsek Maluk.

“Kami minta Kapolres segera memanggil dan mengevaluasi kinerja oknum penyidik Polsek Maluk,” tegas Muhammad Iqra, Korlap Aksi dalam orasinya.

Iqra menduga, ada konspirasi yang dilakukan oleh oknum penyidik Polsek Maluk dalam memproses hukum kasus penganiayaan yang menimpa Dewi Jayanti. Salah satu dari sekian banyak kejanggalannya adalah, dimana isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terkesan mengada ngada, karena tidak sesuai dengan fakta dan kedua belah pihak (terlapor dan pelapor) sempat membantah isi BAP. “Penyidikan kepolisian adalah tugas penyidik dalam penegakan hukum. Ada kode etik dan norma norma yang tercermin dalam profesi penyidik. Jangan ciderai itu,” kata Iqra.

Sementara itu, Akhyar selaku orator lainnya juga menegaskan bahwa penegakan supremasi hukum di NKRI, khususnya di wilayah Sumbawa Barat adalah harga mati. Oleh karenanya Akhyar mengingatkan kepada oknum penyidik Polsek Maluk, agar tidak terkesan tendensius dalam memproses kasus tersebut. “Kami minta ini menjadi atensi Kapolres dan Propam Polres KSB. Jangan sampai kami menyatakan sikap mosi tidak percaya terhadap penegakan hukum di Sumbawa Barat, dan menggelar aksi berjilid jilid,” kecam Akhyar.

Akhyar juga memaparkan bahwa, hukum adalah panglima tertinggi yang harus dihormati. Hukum pula yang menjamin adanya keadilan. Oleh karena itu, sambung Akhyar, masyarakat sangat menaruh harapan besar kepada hukum agar bisa menjadi pelindung. “Nilai kemanusiaan harus hadir dalam penegakan hukum. Jadi kami minta sekaligus mengingatkan, jangan sampai penegakan hukum ‘dilacuri,” tutur Akhyar.

Aksi demonstrasi FRPKSB tidak berlangsung lama, massa aksi meminta Kapolres KSB menemui demonstran. Namun karena Kapolres sedang mengikuti rapat virtual dengan Kapolda NTB, Kasat Intel dan Kabag Ops ditunjuk menemui massa aksi di halaman Mapolres Sumbawa Barat, Kamis pagi (4/3). “Kapolres sedang ada rapat dengan Kapolda NTB,” ucap Kasat Intel Polres KSB, AKP I Made Susila Artana.

Kepada massa aksi, Kasat Intel akan meneruskan kepada pimpinan apa yang menjadi tuntutan massa aksi. Ia juga mengatakan bahwa, jika ada penyimpangan dalam proses penanganan hukum maka akan ditindaklanjuti. “Kalau memang ada penyimpangan, maka tetap akan ditindaklanjuti. Itulah fungsi dari masyarakat untuk mengawasi kita agar proses pradilan bisa dilakukan seadil adilnya,” terang Kasat Intel.

Usai mendengar penjelasan Kasat Intel, massa aksi kemudian membubarkan diri secara tertib. Massa aksi berkomitmen akan terus mengawal kasus yang menimpa Dewi Jayanti, sampai mendapatkan perlakuan yang adil di mata hukum.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolsek Maluk, AKP Sidik Pria Mursita, SH yang dikonfirmasi media ini via selular Kamis (4/3), terkait adanya tuntutan kepada anggotanya yang menjadi penyidik agar segera dievaluasi, ia mengungkapkan bahwa pihaknya siap untuk dievaluasi atas kinerjanya selama ini. “Kami dari Polsek siap dievaluasi atas kinerja penyidik Polsek Maluk. Kita tanggapi aksi unjuk rasa sebagai kontrol agar kita bisa lebih baik lagi,” tukasnya, singkat.

Untuk diketahui, kasus yang menimpa Dewi Jayanti, warga Desa Mantun Kecamatan Maluk bermula saat dirinya mendapatkan dugaan penganiayaan dan pengeroyokan oleh empat orang rekannya bernama Nurnaning Arya Ningsih, Dita Dwi Endaswari, Kusnawati dan Ibu dari Nurnaning Arya Ningsih, usai mengikuti kegiatan sosialisasi tahapan Pilkada KSB di Kantor Desa Mantun, pada Selasa malam (20/10). Dari dugaan penganiayaan tersebut, serta berdasarkan hasil visum et repertum nomor 08/PKM/M/UGD/X/2020 dan ditandatangani oleh dr. Hj. Elviana Ekawati di Puskesmas Maluk tanggal 20 Oktober 2020, diketahui terdapat luka gores di pipi sebelah kiri dengan diameter 10 x 7 cm dan di tangan kiri dengan diameter 5 cm. Selain itu juga terdapat luka luka yang disebabkan benda tumpul.

Merasa dirugikan, Dewi Jayanti kemudian melaporkan kasus yang menimpanya ke Polsek Maluk untuk segera ditangani, dengan terlapor Nurnaning Arya Ningsih, Dita Dwi Endaswari, Kusnawati dan Ibu dari Nurnaning Arya Ningsih pada tanggal 20 Oktober 2020. Pada tanggal 12 Februari 2021, berdasarkan hasil pemeriksaan dan penyidikan oleh penyidik Polsek Maluk, Dewi Jayanti dan Nurnaning Arya Ningsih sama sama ditetapkan sebagai tersangka dan dikeluarkan surat perintah penahanan selama 20 hari sejak tanggal 12 Februari 2021 hingga 3 Maret 2021 dirumah tahanan Polres KSB.

Merasa ada kejanggalan dalam proses pemeriksaan oleh penyidik Polsek Maluk dan adanya dugaan ketimpangan perlakuan dimata hukum, Dewi Jayanti kemudian menunjuk tiga kuasa hukum yang tergabung dalam Malikurrahman, SH Asociates sebagai kuasa hukum untuk mengawal kasus tersebut. (LNG05)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *