Polemik Pariwisata Berbasis Masyarakat: Dilema Bukit Bintang Tiga Rasa

Polemik Pariwisata Berbasis Masyarakat: Dilema Bukit Bintang Tiga Rasa

Share and Enjoy !

Oleh : Kelompok KKN Tematik Unram, Desa Gelangsar 2021

Tidak banyak yang tahu Desa Gelangsar. Bagian dari Lombok Barat yang salah satu pucuk dusunnya berbatasan dengan kawasan hutan Kabupaten Lombok Utara. Awal 2018 lalu, khalayak mulai ramai mengunjungi Bukit Bintang Tiga Rasa yang menyuguhkan atraksi alamnya. Barulah orang-orang tahu, letak Desa Gelangsar dan wisata Bukit Bintang Tiga Rasa yang hanya berjarak 11km dari Kota Mataram.

Desa Gelangsar juga merupakan penghasil tanaman rimpang dan rempah yang berlimpah. Menyimpan dua tempat wisata lainnya yang masih mencoba bangkit dan bersinar seperti pendahulunya. Mereka adalah Bukit Elen dengan pepohonan dan suguhan pemandangan perbukitan, serta wisata Makam Suri yang juga jarang terdengar di masyarakat.


Seperti tempat wisata lainnya, Bukit Bintang Tiga Rasa juga terhantam gelombang pandemi Covid 19 dan kini harus pula berjuang melalui proses kesepakatan se-iya se-kata antara pemilik lahan, pengelola lahan dan kelompok sadar wisata.

Benar, dampak pandemi memukul rata semua kalangan. Tapi nampaknya ketigabelah pihak seolah lupa akan potensi lingkungan dan wisata perbukitan yang telah dimiliki.


Berdasarkan hasil survey kecenderungan masyarakat dalam memilih destinasi wisata, perbukitan menjadi alternatif kedua untuk dikunjungi pada akhir pekan setelah pantai. Masyarakat menjadi semakin tertarik bila di perbukitan tersebut menyuguhkan pemandangan cantik matahari terbit dan terbenam. Disisilain, kemudahan akses dan jarak tempuh sudah barang tentu menjadi pertimbangan besar masyarakat untuk mengunjungi daerah perbukitan. Semakin mudah akses dan semakin dekat jarak tempuhnya, semakin besar pula peluang destinasi tersebut dikunjungi masyarakat. Pengunjung semakin puas bila destinasi wisata juga dilengkapi dengan fasilitas umum yang memadai.


Na’asnya, meskipun telah memenuhi semua kriteria tersebut demi menarik dan memuaskan pengunjung, ada banyak hal yang perlu ditambal pemilik dan pengelola lahan serta kelompok sadar wisata.

Selayaknya pariwisata yang berbasis masyarakat, Desa Gelangsar tidak sendiri. Hampir semua pariwisata yang berbasis masyarakat mengalami tantangan pengembangannya masing-masing.


Pariwisata berbasis masyarakat sendiri dapat diartikan sebagai suatu pendekatan pembangunan pariwisata yang mana masyarakat lokal lebih ditekankan untuk terlibat langsung dalam pariwisata.

Konsep ini merupakan dasar pengembangan pariwisata berkelanutan yang menegaskan bahwa masyarakat tidak lagi menjadi objek pembangunan, melainkan menjadi penentu pembangunan itu sendiri (Ardika dalam Purnamasari, 2011).


Di negara berkembang, pembangunan dari daerah penting untuk pemerataan sehingga dapat mengurangi ketimpangan dan menjadi ‘obat mujarab’ dalam meningkatkan pendapatan. Namun demikian, pariwisata daerah bagaikan dua sisi mata uang. Sisi satu dapat meningkatkan pendapatan suatu wilayah tapi sisi lainnya menimbulkan satu dua dampak negatif terhadap lingkungan.


Bila ditilik lebih jauh, dengan pertimbangan kemajuan zaman pariwisata daerah yang berbasis masyarakat tidak lagi seperti dua sisi mata uang. Melainkan sebilah mata pisau tajam. Karena pariwisata di negara berkembang dianggap tidak membawa keuntungan ekonomi yang signifikan baik bagi negara tujuan lebih-lebih bagi masyarakat lokal (Goodwin, dalam Purnamasari, 2011).

Jurang ketimpangan tetap saja cukup dalam karena usaha pariwisata yang berskala besar dikuasai oleh pengusaha besar yang sudah pasti telah menetapkan standar tertentu bagi setiap aspeknya. Hal ini sudah jelas menyebabkan pariwisata skala kecil yang dikelola masyarakat lokal kalah bersaing.


Kami bahkan mencoba bandingkan dengan salah satu wisata perbukitan bak taman langit yang dikelola masayarakat lokal, dan telah acap kali menjadi destinasi bagi masyarakat untuk berakhir pekan. Memang terlihat menjadi lebih mudah karena lahan adalah hak penuh pemilik. Namun dilema tetaplah dilema, meski didukung aparatur desa dan kelompok pemuda sadar wisata, pemilik tak juga merasa cukup berkontribusi, terlebih secara ekonomi kepada masyarakat sekitar.

Meskipun, beberapa pekerjanya adalah pemuda-pemuda desa. Jelas disisi lan, ini menjadi tamparan cukup keras bagi kelompok sadar wisata yang nyatanya terlambat menyadari potensi wisatanya.

Beda kata beda cerita dengan Desa Gelangsar yang pegiat dan pengelola wisatanya masih kuat dengan keinginan yang sayangnya bersebrangan dengan pemilik lahan.


Pada akhirnya, mempersiapkan masyarakat yang tidak lagi menjadi objek pembangunan, melainkan menjadi penentu pembangunan itu sendiri justru lebih besar tantangannya. Harapan kami akan pariwisata yang berkelanjutan di Desa Gelangsar merupakan pekerjaan panjang kelompok KKN selanjutnya dan kami percaya potensi yang disimpan Desa Gelangsar tidak cukup kami singkap dalam 6 minggu.

Namun adanya peningkatkan penekanan aktivitas dari kehidupan tradisional telah menjadi kekuatan utama. Ditambah interaksi spontan antara masyarakat dan pengunjung untuk saling bertukar pengetahuan dan pengertian tentang lingkungan serta kebudayaan setempat akan menumbuhkan kebangaan masyarakat lokal terhadap potensi desanya. Yang jelas kini, kami sisipkan harapan pada Bukit Elen dan Wisata Makam Suri yang sedang bersiap-siap untuk diantarkan dan dikenal masyarakat luas. Agar Gelangsar tidak lagi menjadi potensi tersembunyi yang masih tertidur.

(Kelompok KKN Tematik Universitas Mataram, Desa Gelangsar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *