Menilik Indikator Keberhasilan Pengembangan Desa Gelangsar Menjadi Desa Wisata melalui Destinasi Wisata Bukit ‘Elen’

Menilik Indikator Keberhasilan Pengembangan Desa Gelangsar Menjadi Desa Wisata melalui Destinasi Wisata Bukit ‘Elen’

Share and Enjoy !


Oleh : KKN Tematik Unram 2021, Desa Gelangsar

Meningkatnya model pengembangan desa wisata memang menjadi salah satu agenda nasional yang cukup efektif untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat desa. Disisi lain juga mampu menjadi penekan urbanisasi masyarakat desa ke kota. Desa wisata kemudian semakin dikembangkan dan disokong oleh dua kementrian, yakni Kementrian Pariwisata dan Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Kerapnya suntikan bantuan berupa dana dari pemerintah demi memberi jalan bagi masyarakat untuk mempercepat program desa wisata.


Namun, untuk mengukur keberhasilan dalam pariwisata tidaklah mudah. Terlebih pariwisata yang menerapkan Community Based Tourism banyak sektor yang mesti dipertimbangkan, mulai dari sektor sosial, budaya, politik, terutama ekonomi. Karena sifatnya yang lintas sektor banyak yang berpandangan bahwa keberhasilan pariwisata merupakan hal yang sifatnya abstrak. Bahkan ada yang berpendapat keberhasilan pariwisata adalah ketika destinasi wisata itu mampu menjadi public revenue atau pendapatan bagi masyarakat.


Sebelumnya perlu dipahami bersama, bahwa keberhasilan masyarakat pengelola wisata dalam mengembangkan wisatanya tidak hanya bergantung dari perputaran uang yang dihasilkan dari pengunjung. Sangat tidak bisa, lebih-lebih pada kondisi di tengah pandemi. Wisatawan tak setiap hari berkunjung shingga tidak ada jaminan keerhasilan dari pendapatan pengunjung. Tidak juga serta merta digantungkan dari jumlah penghargaan yang diterima.


Keberhasilan pengembangan desa wisata dapat diperhatikan melalui destinasi wisata yang berkualitas atau Quality Destination. Ia merupakan hasil dari proses yang menyiratkan kepuasan semua produk dan keutuhan layanan, persyaratan, dan harapan pengunjung dengan harga yang dikenakan, sesuai dengan kondisi kontrak yang diterima bersama, dan faktor-faktor mendasar yang tersirat seperti keselamatan, keamanan, kebersihan, aksesibilitas, komunikasi, infrastruktur, maupun fasilitas layanan publik yang melibatkan aspek etika, transparansi, dan penghargaan terhadap lingkungan, manusia dan budaya (UNWTO, 2018).

Dari indikator ini, kami mencoba untuk menguraikannya lagi menjadi bagian-bagian indikator yang meliputi semua aspek dan pihak yang terlibat dalam pengembangan desa wisata.
Dimulai dari kepemilikan dan kepengurusan oleh masyarakat. Segala potensi dan asset desa haruslah dikerahkan untuk pengembangan lingkungan, tradisi dan budaya.

Lingkungan yang kami maksudkan khususnya adalah tanah. Oleh karena itu, masyarakat desa harus menjadi pemilik sekaligus pelaku dalam segala bentuk usaha pariwisata. Dengan begitu, manfaat pengemabangan desa wisata akan diterima kembali oleh masyarakat desa.


Akan lebih baik jika bisa ditunjukkan dengan adanya legalitas lembaga atau kelompok pengurus desa wisata dengan pemerintah daerah. Pengelola juga harus melaporkan kegiatan secara transparan dalam setiap bidang, mulai dari bidang keuangan dan seterusnya.

Wujud keberhasilannya adalah terdapat pengelolaan yang transparan (1). Adanya legalitas antara lembaga dengan penglola (2). Terjalinnya kemitraan baik dengan pemerintah, akademisi, komunitas, media ataupun lembaga swasta (3).


Dari satu indikator ini saja, banyak elemen yang harus bersinergi. Dan sebagai destinasi wisata baru yang mencoba mandiri, Bukit Elen dan elemen di dalamnya mesti menjadikan indikator ini sebagai catatan penting. Mereka juga harus belajar dari kemandirian pengelola wisata Gunung Jae.

Dalam waktu 6 bulan pendiriannya berhasil menyatukan semua pihak dan mendapatkan kepercayaan penuh baik dari pemilik lahan, apparat desa dan pemerintah desa untuk mengurus pariwisata sepenuhnya. Sebagai catatan, mereka kepercayaan itu mereka dapatkan dalam waktu satu bulan pembuktian, mencoba beroperasi dan mengatur pendapatan. Artinya, transparansi, keinginan dan tanggung jawab menjadi modal kuat dan juga indikator yang teruji keberhasilannya.


Indikator keberhasilan pengembangan desa wisata selanjutnya adalah ketika wisata tersebut berkontribusi terhadap kesejahteraan sosial. Kemiskinan masih menjadi pekerjaan panjang yang masih terus dikerjakan di Indonesia.

Hal ini juga menjadi tantangan sektor pariwisata kedepannya. Untuk tidak hanya meningkatkan pendapatan secara ekonomi tapi juga melahirkan keseimbangan pada pilar sosial. Mampu menciptakan lingkungan dengan kesetaran gender ataupun yang lainnya.


Dengan demikian, ukuran keberhasilan kontribusi wisata akan kesejahteraan sosial bagi masyarakat tidak hanya dilihat dari berapa jumlah masyarakat yang terlibat tapi juga melalui pembagian keuntungan yang adil, baik dari segi usia, dan jenis kelamin (1). Memperkuat nilai gotong-royong dan kerukunan antarwarga (2). Adanya kesempatan dan akses pendidikan, atau partisipasi yang sama (3).


Dari indikator sosial dan ekonomi ini, dapat disimpulkan bahwa semakin besar wisata itu dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat, semakin besar pula rasa kepercayaan, keperdulian dan kepemilikan terhadap wisata tersebut. Dalam jangka panjang, dapat menjadi suatu kebanggan bagi masyarakat desa atas keberhasilan pengelolaan dan kepuasan pengunjung.


Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan desa wisata kembali lagi tergantung pada tingkat penerimaan, dukungan dan partisipasi masyarakat lokal. Dan juga tidak terlepas dari potensi desa serta tingkat kesadaran masyarakat atas wisata. Ketika masyarakat mulai sadar wisata, maka akan timbul keinginan untuk mengelola dan antar kelompok pengelola akan terpupuk solidaritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *